Loading mamo dcc191219f269f6c2c9e8fab2da9a048c8d4e64f264b7ccfdca083f4e90bdd79
11:14 November, 08, 2016     90 Orang Melihat Artikel Ini

Kenapa 95% Kegiatan Influence Marketing Gagal?


Kenapa 95% Kegiatan Influence Marketing Gagal?

People influence people. Nothing influences people more than a recommendation from a trusted friend. A trusted referral influences people more than the best broadcast message. A trusted referreal is the Holy Grail of advertising, - Mark Zuckernberg (CEO Facebook)

Influence is the Name of the Game. Makanya jangan heran, influence marketing, ke depan akan menjadi semakin me-mainstream. Persis seperti yang diramalkan oleh Mark W. Schaefer, di bagian akhir dari bukunya, Return On Influence: The Revolutionary Power of Klout, Social Scoring, and Influence Marketing. 

Sekadar background info, Mark Schaefer, adalah yang pertama kalinya meneliti tentang influence marketing. Schaefer dicatat oleh Majalah Forbes sebagai the world’s 50 social media “power influencers”.

1. Awas: Sesat Memahami Influence Marketing

 

Secara konsep, influence marketing, memang bukan barang baru. Banyak pihak bahkan merasa sudah biasa mengerjakannya sejak dulu. Cuma, kini influence marketing semakin menemukan momentumnya.  Salah satu penyebabnya, adalah: Kini adalah era jejaring social media

Di era socmed sekarangterbentuk kategori kelas masyarakat baru. Oleh Schaefer dinamai “citizen influencers”. Mereka ini kelompok kecil orang biasa –maksudnya: bukan tokoh. Namanya juga tak terkenal. Pun bukan selebriti. Tapi, mereka punya kuasa pengaruh luarbiasa di jejaring kemasyarakat. Yang menyebabkan mayoritas orang lain , mau melakukan yang kaum minoritas ini minta. Sampai-sampai konsep tradisional dari influence pun, mengalami rekonstruksi ulang.

Yang juga semakin menjadikan influence marketing kian penting saat ini, adalah akibat terjadinya pergeseran di bidang strategi promosi. Termasuk di dalamnya, strategi periklanan.

Seperti diulas di sini, kini promosi/periklanan semakin berbasis percakapan. Berupa people-to-people story. Bukan lagi didominasi wacana brand story. Atau story behind the brand. Sebabmeminjam istilah Mark Zuckerberg, “…tak ada yang lebih bisa mempengaruhi orang, selain rekomendasi dan pendapat dari teman sejawat.”

Makanya, seperti diulas di posting sebelum iniFacebook sangat berkepentingan bisa secepatnya mengoptimalkan kesaktian applikasi Messenger-nya. Ini adalah applikasi “sapu jagat”. Diistilahkan the everything app. Serba bisa. Mampu menyelesaikan urusan apa saja. Secara lintas operator. Antar- perangkat komunikasi berbeda. Secara seamless.

Kelak, Messenger dicita-citakan akan menjadi platform dan gateway tunggal. Untuk memberi solusi kebutuhan percakapan. Pertukaran pesan dan data. Pun remitansi. Maupun transaksi/e-commerce, yang berbasis mobile web.

 

2. Gagal, gara-gara terseret euphoria dan terlena hype

Yang menarik , di bukunya yang diganjar penghargaan Choice Magazine Outstanding Business Book of the Year Award pada 2012 tadi, Mark Schaefer juga sekaligus mewanti. Bahwa justru karena ke depan influence marketing akan semakin popular dan super-hot, menyebabkan konsep tersebut, berpotensi mengalami sesat pemahaman. Maknanya berpotensi digunakan secara kurang pas. Bahkan dikelirukan anggapan yang keliru.

“..not all is as it appears to be!,” ia mengingatkan. Yang tampak seperti influence marketing, menurutnya, bisa jadi bukan influence marketing.

Makanya, walau sudah banyak yang melakukan. Walau sudah banyak yang menyebut dirinya ahli di bidang ini. Tapi, ternyata mayoritas perusahaan, gagal mengoptimalkan kefaedahan influence marketing.

Sebuah studi bahkan menemukan: 95% yang melakukan, gagal mengoptimalkan kemanfaatan strategi influence marketing.

Itu, akibat keliru memahami makna influence marketing. Sehingga, potensi penyebab ketidaksuksesan, gagal diantisipasi. Juga karena melakukannya sekadar karena ikut-ikutan. Akibat menganggap influence marketing sekadar tren marketing. Atau terjebak hype dan euforianya saka. Tak sadar sudah melakukan salah kaprah.

 

Berikut Contoh Salah Kaprah Itu : 

a. Influence Marketing bukan tentang influencer. Walau nama konsepnya influence marketing, tapi penentunya, bukan aspek pengaruh sang influencer.Bukan. Suksesnya, justru dikontribusikan variable intensity,  intimacy, proximity, serta affinity.

 

b. Influence marketing juga bukan tentang jumlah. Itu pointer penting berikutnya. Influence marketing bukan tentang berapa banyak bisa yang bisa di-reach. Bukan tentang berapa banyak exposure. Yang benar, influence marketingadalah terkait kualifikasi mutu. Kategori audiens yang relevan. Serta kriteria dampak yang dipicunya. Maka yang justru kian dituntut adalah relevansi, kompetensi, reliability, trust, engagement dan influential level.

c. Influence marketing dikira tentang menjadikan diri sendiri, unggul. Itu salah kaprah berikutnya. Pelaksanaan influence marketing, dikira adalah untuk menjadikan diri kita paling mendominasi konstelasi. Paling menguasai pangsa pengaruh. Padahal, makna yang benerinfluence marketing harus lifting others.

Akibat  salah kaprah tadi, dalam konteks perpolitikan, influence marketinglazim diasosikan secara negatif. Misalnya dianggap bagian dari strategi agenda setting. Misalnya dengan memanipulasi logika. Memelintir paradigma. Menggiring partisipasi. Memalsukan aspirasi.

 

d. Jebakan socio scoring dan vanity meterAda studi menarik yang menyoroti fenomena di social mediaTwitter misalnya. Dalam studi tersebut, applikasi bercecuit itu dicatat adalah contoh alat yang buruk, untuk memprediksi realita sikon pasar. Karena komposisi demografik pengguna Twitter ternyata cenderung bias. Sehingga angka ukuran socio scoring, atau vanity metric (misalnya termasuk ranking popularitas, trending topic dll)menjadi ukuran yang berkonotasi manipulatif. Karena dicemari unsur subyektivitas, apriori dan sentiman di dalam prosesnya.

Ternyata, motivasi kemunculan angka-angka di media social, adalah karena ada kepentingan, keberpihakan dan agenda politik tertentu. Tidak benar-benar merepresentasi audiens yang diasumsikan memiliki relevansi terhadap brandyang di-endorse.

Link berikut, tentang mantan karyawan Facebook yang membongkar tindak kecurangan, manipulasi dan diskriminasi data, menarik sebagai renungan.

 

d. Gara-gara salah membaca “Segmen”. Kampanye influence marketing juga berpotensi blunder, disebabkan salah membaca makna segmen. Dalam pemaknaan kontemporernya, “segmen” bukan lagi diasosiasikan sebagai kumpulan kaum dengan aspek demografi sama. Melainkan akumulasi dari kelompok sempit yang mewakili keragaman atribut, yang saling berbeda.

Sebab, ukuran efektif bukan tentang besarnya jumlah yang diraih dan dibidik. Melainkan tentang bagaimana menjadikan komunikasi brand menjadi lebih otentik, personalized dan humanize.

Penulis sering mengistilahkannya dengan ini: Lebih baik jumlahnya dikit tapi interaksinya deket. Daripada banyak tapi bonyok.

e. Gara-gara salah membaca “Segmen”. Ini juga salah kaprah yang lazim. Maksudnya: yang bener, influence marketing bukan tentang mutu pesan yang disuarakan influencer, endorser, atau buzzer. Karena seperti pernah diulas di posting ini, yang connected tidak dijamin pasti connect.

Maksudnya: connected secara digital di platform jejaring sosial , tidak menjamin semua pesan yang dipercakapkan, akan nyambung, dengan setiap individu yang terhubung.

Faktanya, setiap individu dalam audiens, punya audiens-nya sendiri-sendiri. Dengan preferensi dan referensi values-nya sendiri-sendiri.

 

f. Bukan Berapa Temanmu. Tapi Siapa Temanmu. Dalam influence marketingberlaku rumus begini: Bukan banyaknya jumlah friends dan followers yang penting. Melainkan, siapa temannya temanmu. Dan seberapa pengaruhnya teman-temanmu di lingkunganmu.

Contoh konkret dari salah kaprah tersebut, banyak kita jumpai di lapangan.

Misalnya ini: meng-influence komunitas dengan men-treatment-nya sebagai mass market. Yang dilakukan, sekadar mereduksi lingkup ukuran kumpulan. Dari skala mass, disusutkan menjadi seukuran komunitas. Tapi saat meng-influence, komunitas tersebut diperlakukan sebagai kumpulan komoditi. Diasumsikan sebagai entitas serba-homogen.

Fakta keragaman dalam komunitas tak diperhatikan. Preferensi individu dalam komunitas tak diberi atensi.

 

g. Meng-influence dengan mengandalkan outsider. Kesalahan lebih parah, adalah ketika memaksakan meng-influence komunitas, dengan mengandalkan outsider buzzer. Ini misalnya termasuk yang lazim dilakukan brand owner sendiri.

Maklum, sebagai sponsor, brand biasanya memang gampang tergoda berupaya “menaklukan”. Bahkan “menguasai” pengaruh, di lingkup komunitas yang disponsorinya tadi.

Mungkin brand tadi lupa. Bahwa pengukuran kredibilitas Edelman Trust Barometer 2016mencatat, bahwa pendapat family serta rekomendasi friends, peringkat skor-nya jauh lebih dipercaya daripada pendapat yang dibilang brand.

Faktanya, memang bukan pesan yang paling terdengar  –termasuk di media sosial— yang dianggap terbenar. Bukan yang paling nyaring, akan dianggap paling penting. Pun bukan yang tergaduh, yang paling berpengaruh. Karena bukan yang paling bising, yang bikin orang semakin menyimak dan berpaling.

Justru ini yang substansial: Makna informasi, akan jauh lebih berarti, jika esensinya dibagi di antara yang saling mengerti isi substansi informasi tadi.

 

h. Kerap dilupa: Influencer adalah juga manusia. Ini hal sepele. Makanya kerap diremehkan. Sehingga banyak menggelincirkan. Karena influencer adalah juga manusia seperti kita juga, maka Don’t pitch them. Befriend them. Memosisikan influencer sekadar karena jumlah followers, friend, fans ibarat sekadar “memperalat”Pun jika memilih influence hanya karena sekadar pertimbangan status ke-selebritisannya. Atau karena namanya terkenal. Diidolakan. Atau dalam ukuran politik diistilahkan: elektabilitasnya tinggi. Begitu pun popularitas dan akseptabilitasnya. Itu akan dipersepsi sebagai eksploitasi.

Kalau sudah begitu, yang kasihan adalah nasib reputasi sang influencer tersebut, di mata peer-nya. Sang pemengaruh akan dilabeli sudah tereksploitasi. Di mata peer-nya, harga sang tokoh, jadi murah sekali. Bahkan sudah terbeli. Apalagi jika penggunaan sang infuencer adalah untuk mencapai tujuan-tujuan yang remeh dan atau sifatnya cuma taktikal.

Pada titik itu, bicara tentang relevansi, kompetensi, kredibilitas, trust, reliability,apalagi daya influential sang influencer, cuma menjadi omong kosong. \kris moerwanto.

 

sumber gambar : image.google.co.id

sumber artikel : https://kris170845.wordpress.com/2016/05/14/kenapa-95-kegiatan-influence-marketing-gagal/

 

 

 


ARTIKEL TERPOPULER
Tampil keren dan Maskulin di Musim Hujan, Kenapa Enggak?
Tipe-tipe Pengguna Media Sosial yang Bikin Kamu Gemesss
Kiat Kiat Memulai UKM yang Sukses
Kiat Kiat Memulai UKM yang Sukses
06:49 January, 10, 2017
Ini Hal-hal Yang Membuat Pelanggan Puas
Ini Hal-hal Yang Membuat Pelanggan Puas
02:28 December, 09, 2016
9 hal yg bisa kamu lakukan setelah pulang kerja